Seringkali aku ngeliat postingan-postingan berita di sosmed tentang orang yang stress atau depresi pada waktu-waktu ini. Tak sedikit para penderita depresi yang pada akhirnya memilih untuk menutup hidupnya sendiri dengan bunuh diri.

Lalu ketika aku membuka kolom komentar, ada dua jenis manusia. Ada yang bilang, “Ah, makanya kalo depresi yang diinget pertama kali itu tuhan!” Kemudian ada pasukan kedua yang membela, “Ih, nggak sesimpel itu orang depresi, ini bukan melulu masalah iman sama tuhan. Ini masalah mentalnya dan problem yang dia punya!” Dan terjadilah perdebatan sengit di antara para kubu beda pendapat, sedangkan aku memeluk lutut di pojokan, nonton mereka gelut.

Tapi aku tetep ikut berpikir. Apa sih rahasia di balik orang yang menderita depresi itu? Aku nggak mau sok tau dan langsung menyimpulkan secara mentah tanpa ada riset bener dan cuma ngandelin opini. Makanya di sini, aku akan coba breakdown pendapatku plus dengan riset.

Kita akan mulai dari Opini Pribadi aku.

Dari pandanganku sendiri terhadap orang depresi, penyebab, gejala dan solusinya. Tentunya aku nggak akan langsung menyimpulkan, “Oh, dia harus kembali ke Tuhan.” “Oh, dia iman dan taqwanya kurang.” Walaupun aku juga nggak mengingkari ini. Yang jelas, aku rasa sebagian besar orang depresi dan stres justru malah orang yang paling dekat dengan Tuhan.

Aku percaya mereka paling dalam permohonannya, paling panjang doa dalam sujudnya, paling lama menghabiskan waktu berdua dengan Tuhan, karena memang kebanyakan mereka sudah tak punya siapa-siapa lagi yang bisa mereka percaya untuk diminta pertolongan.

Tapi ya ini kan relatif ya, setiap orang beda-beda cara melampiaskan masalahnya. Kalo aku, ngambil pendapat lebih condong ke husnudzon aja, yang lebih mendekat ke tuhan.

Cuma, masalahnya, kenapa masih banyak yang pada akhirnya mati bunuh diri? Simpel, mereka putus asa dan merasa kalau Tuhan nggak mengabulkan doanya, atau nggak sabar karena hingga waktu lama mereka merasa nggak dapet pertolongan apapun dari Tuhan. Pada akhirnya, mereka udah nggak bisa apa-apa lagi. Ketika dalam benak mereka sudah mulai meragukan keberadaan Tuhan atau meragukan kasih sayangnya pada mereka, mereka sudah kehilangan harapan terakhir mereka.

Pada akhirnya, pikiran buruk mereka mengatakan bahwa Tuhan tak sayang dengan mereka, Tuhan tak peduli. Atau yang paling parah, bisa sampai mengira kalau Tuhan itu pada sejatinya tak ada eksistensinya. Hampa. Tuhan itu nggak ada.

Yang pada akhirnya, mereka menganggap hidup ini tak ada lagi gunanya. Untuk apa lanjut hidup? Jika orang-orang saja tak ada yang peduli denganku? Tuhan juga tak kunjung menjawab doa-doaku? Atau apakah Tuhan itu ada? Begitulah kira-kira apa yang mereka pikirkan atau malah lebih dalam lagi.

Semakin lama mereka berpikir dan berusaha bertahan (tanpa ada support sama sekali yang mereka dapatkan), semakin gelap pikiran mereka, hingga mereka tenggelam dalam emosi buruk mereka sendiri, hingga mereka tak lagi mampu berpikir positif lagi. Bagaimana caranya? Mereka tak melihat adanya tanda-tanda kebaikan, bagaimana mereka akan terus optimis?

Ketika yang mereka lihat setiap hari adalah masalah, masalah dan masalah yang bertumpuk. Akal sehat akan tertutup, karena kita semua punya limit di pikiran kita dan ketika kita dipaksa untuk langsung memikirkan banyak masalah berat, kita nggak bisa. Itulah kenapa orang depresi makin lama, makin susah mikir.

Yang tersisa di otak mereka apa? Emosi. Udah, itu aja. Ketika otak sudah sampai limitnya, maka yang akan mengontrol kita selanjutnya adalah insting. Anggaplah masalah-masalah yang menggunung itu adalah hewan buas yang mengerikan. Semakin lama kita disuruh untuk menghadapi dia, malah semakin kuat dianya dan semakin besar wujudnya. Sedangkan kita semakin lama bertahan, semakin lemah.

Apa jadinya? Pada akhirnya, kita cuma pengen lari aja. Udah, nggak sanggup lagi. Aku harus lari dari masalah-masalah itu. Apapun caranya. Nggak bisa mikir lagi.

Makanya, kalo misalkan menghadapi orang depresi, ya yang ditangani pertama kali ya emosinya. Tugas kita adalah mensupport emosi mereka dan kembali menyadarkan mereka kalo mereka masih punya orang lain. Bukanya disuruh mikir jernih. Nggak bisa! Malah meledak nanti.

Coba ampiri mereka, peluk mereka. Jangan tanya kepada mereka, “Semuanya bakal baik-baik aja.” Karena mereka nggak akan semudah itu percaya dengan kalimat itu. Atau kita malah nanya, “Kamu nggak papa? Are you ok?” Laah, kamu itu tahu mereka nggak lagi baik-baik aja. Mereka juga bingung harus jawab apa ketika ditodong pertanyaan itu.

Nggak perlu pake kalimat basa-basi itu. Menurutku, cukuplah kita peluk mereka erat-erat, kita usap bahunya, dan kalau kamu mau, cium dahinya atau pipinya (syarat dan ketentuan berlaku). Bilang ke mereka, “I love u bro/sis. Aku sayang banget sama kamu.” Intinya buat mereka merasa aman dan tenang.

Setelah itu, coba tanya pelan-pelan apa masalah yang sedang mereka hadapi, apa yang menghalangi benak mereka. Kalau mereka belum mau cerita, jangan dipaksa, biarkan dulu aja. Treat them safely. Tetap berada di dekat mereka, make them feel safe. Sampai mereka mau sedikit demi sedikit membuka masalahnya.

Aku yakin ini sebenarnya nggak sesimpel itu. Cuma, ini kan masih sebatas pake opiniku aja. Sekarang, kita coba terjun ke Opini berdasarkan penilitian.

Dikutip dari Wikipedia, Depresi atau gundah adalah suatu kondisi medis berupa perasaan sedih yang berdampak negatif terhadap pikiran, tindakan, perasaan, dan kesehatan mental seseorang. Kondisi depresi adalah reaksi normal sementara terhadap peristiwa-peristiwa hidup seperti kehilangan orang tercinta. Depresi juga dapat merupakan gejala dari sebuah penyakit fisik dan efek samping dari penggunaan obat dan perawatan medis tertentu. Dalam kaitannya dengan gangguan mental lain, depresi dapat juga menjadi gejala dari gangguan kejiwaan seperti gangguan depresi mayor dan distimia.

Seseorang dalam kondisi depresi umumnya mengalami perasaan sedih, cemas, atau kosong; mereka juga cenderung merasa terjebak dalam kondisi yang tidak ada harapan, tidak ada pertolongan, penuh penolakan, atau perasaan tidak berharga. Gejala-gejala lain yang mungkin muncul adalah perasaan bersalah, mudah tersinggung, atau kemarahan. Lebih jauh, individu yang mengalami depresi dapat juga merasa malu atau gelisah.

Selain perubahan suasana hati, individu dengan gejala depresi cenderung kehilangan minat untuk melakukan aktivitas-aktivitas yang sebelumnya ia anggap menyenangkan; kehilangan nafsu makan atau sebaliknya, makan dengan porsi berlebih. Penderita juga akan kesulitan untuk berkonsentrasi, mengingat detail-detail umum, membuat keputusan, ataupun mengalami kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain. Pengalaman-pengalaman ini dapat mendorong individu untuk mencoba bunuh diri.

Singkatnya gitu. Jika kita lihat lagi lebih mendalam, depresi itu ternyata memang banyaak sekali jenis dan penyebabnya. Gejala-gejalanya juga sebenarnya mudah dikenali, seperti mengurangnya performa dari berbagai hal.

Tapi masalahnya, kadangkala ada penderita depresi yang sama sekali tak terlihat gejalanya. Dia tetap ceria, dia paling lucu di circle, paling banyak cerita dan sama sekali tak terlihat tanda-tanda depresi. Walaupun sebenarnya, kita harusnya bisa merasakan kejanggalannya, tapi kalau kita nggak peka, ya nggak bakal ketauan.

Ujug-ujug kita dapet kabar dia dah mati.

Makanya, aku pesankan buat diri aku sendiri, buat teman-teman di sana yang baca tulisan ini, tolong perhatikan teman, keluarga dan semua orang terdekatmu, tolong peka dengan apa yang mereka rasakan, jangan sampai kita lengah dan nggak sadar kalau ternyata ada orang terdekat kita yang nyimpen sesuatu dan nggak berani ngungkapin ke siapa-siapa karena nggak merasa ada yang bisa dipercaya.

Dan buat kamu yang sedang ngerasa down dan tertekan, entah apapun penyebabnya, entah masalah dari luar, atau memang masalah yang kamu bangun sendiri dalam benakmu. Tolong, Tuhan itu ada. Terus berdoa, bahkan mau sampai bertahun-tahun kamu berdoa, jangan putus asa.

Kedua, tolong terbuka. Komunikasi dengan orang-orang terdekatmu. Jujur dengan mereka semua. Kadang rasa kesepian dan terpojok yang ada dalam pikiranmu itu sebenarnya hanya ilusi yang kamu buat-buat sendiri dan hanya merusak dirimu sendiri pada akhirnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *