Saya rasa, pengalaman romans adalah genre yang indah di kehidupan kita, namun bisa saja membunuh perlahan ketika ia terjadi di waktu dan tempat yang tidak tepat. Contoh paling umumnya di kampus, atau katakanlah seluruh lingkup lingkungan akademik.
Pemandangan kawan-kawan saya berpacaran sudah menjadi santapan saya setiap hari, dan lucunya, meskipun saya muak dan ingin melempari mereka dengan batu, saya sebenarnya tak pernah bosan menontoni mereka, karena sebenarnya, pun, saya ingin juga merasakan pengalaman itu. Ah, sialan!
Bergandengan, berpelukan, saling menyemangati satu sama lain. Ah, indah sekali ketika saya membayangkan diri saya berada di setiap adegan tersebut. Tapi kemudian saya jadi bertanya-tanya, apakah itu sebenarnya merupakan bentuk tulus absolut dari cinta, atau mereka hanyalah media pelampiasan terhadap gairah pemuda yang sedang menggebu-gebu?
Karena ketika saya mengamati mereka para lovebirds, mereka semua mengulang satu pola yang sama: perkenalan – pendekatan – jadian – menjalani hubungan dalam waktu tertentu – putus. Kemudian ketika mereka kehilangan pasangan, mereka akan menemukan penggantinya di lain waktu dan mengulang pola yang sama kembali. Tak pernah kapok.
Saya jadi mempertanyakan kembali, dong. Sebenarnya, yang dicari dalam pacaran itu apa sih? Karena saya rasa, dalam dunia romans di kalangan pemuda zaman sekarang, ada satu hal penting yang kian pudar dan terlupakan: loyalitas atau komitmen. Dan yang aku bicarakan di sini adalah komitmen bersama hingga maut menjemput. Dari pengamatanku, aku menyayangkan bahwa orang-orang sudah tidak lagi menganggap poin tadi sebagai hal yang patut dipertimbangkan.
“Jalani saja dulu” kata mereka. Ah, benci sekali ketika aku mendengar lontaran itu. Seolah menunjukkan bahwa mereka, pun, tidak yakin dengan apa yang sebenarnya mereka jalani kedepannya. Ibaratkan berjudi tanpa strategi, namun berharap semuanya akan berjalan baik-baik saja. Padahal ketika akhirnya hubungan mereka kandas (untuk kesekian kalinya) mereka adalah orang yang paling kecewa dan paling terluka.
Atau jika bukan begitu, maka makna lain dari ucapan itu adalah bentuk dari ketakutan terhadap komitmen yang harus dijalani hingga mati. Bukan lagi bentuk dari optimisme buta, tapi merupakan bentuk kepasrahan yang didasari oleh hubungan yang tidak jelas arahnya. Jika seperti itu, maka pertanyaanya, value apa yang dipegang mereka dalam sebuah hubungan tanpa arah?
Sehingga, setiap kali saya mengamati kawan-kawan saya, yang terlontar di pikiran saya bukan sekedar when yah, tapi juga berbagai pertanyaan lainnya seperti yakin itu akan bertahan selamanya? atau ah, yakin sekali fase ‘boom-boom kachoo’ ini akan berlangsung sementara saja. Sebenarnya saya sering merasa bersalah ketika berpikir seperti ini karena seolah saya memprediksi hal buruk terhadap mereka. Bukan begitu, saya hanya bosan mendapati pola yang sama terulang ribuan kali dengan akhir yang sama pula.
Setiap kali saya bertanya kepada diri saya, “andaikan saya menjalani hubungan seperti mereka, apakah sia-sia?” dan jawaban tegas saya sejauh ini adalah iya. Selain memang dosa, tapi kita akan kesampingkan itu. Saya juga tidak mau menjalani sebuah rentetan peristiwa krusial dalam kehidupan saya, yang membutuhkan tenaga, emosi, dan uang yang tak sedikit, hanya untuk akhirnya berakhir sia-sia dengan kalimat, “aku ingin putus.”
Saya jadi bertanya-tanya lagi, apa sih bentuk cinta yang sebenarnya, yang seharusnya di cari di dalam hubungan dengan seorang partner?
***
Mengomentari betapa indahnya pacaran sekaligus bobroknya efek samping yang ditimbulkannya. Dalam pacaran, kita semua bisa melihat betapa indahnya skenario yang terjadi di dalamnya.
Dimulai dari sebuah pertemuan tak disangka antar dua manusia, kemudian Tuhan dengan isengnya, tanpa sebab, menyisipkan buih-buih cinta di dalam hati keduanya. Keduanya jatuh cinta, dan mereka berdua perlahan saling mendekat, perlahan mengenal dan perlahan rasa nyaman itu semakin membuat segala hal di satu sama lain antar mereka terasa hangat dan damai. Seolah, mereka telah menemukan rumahnya, yaitu satu-sama lain. Kemudian salah satu dari mereka yang paling berani akhirnya mengakui cintanya, dan meminta izin, “apakah adinda berkenan jikalau aku menjadi pacar adinda?” sembari menyodorkan sebuah bungkusan besar berisi sekumpulan bunga mawar yang ia kemas dengan cantik. Adinda mengangguk dan mereka mulai resmi berpacaran. Skenario selanjutnya kalian lanjutkan sendiri, aku mau muntah.
Tentu saja kita juga sudah tahu dan hafal pola dari skenario romans ini yang bisa kita temukan di berbagai film, manga, novel atau bahkan sekarang AU. Tapi kenyataannya, realita dalam kehidupan selalu berlawanan dengan apa yang terjadi.
Semua orang mungkin berani untuk jatuh cinta. Masalahnya adalah tidak semuanya berani untuk bertahan di atas cinta tersebut. Karena jika konteks cinta yang kita bahas di sini adalah ‘perasaan’, maka berarti cinta merupakan suatu hal yang sementara. Lantas, apa yang sebenarnya bisa mempertahankan suatu hubungan jika cinta bersifat sementara? Saya pun juga masih ragu dengan jawabanya. Dan jika begitu, maka berarti selama ini orang-orang yang berpacaran bukan mencintai orangnya, tapi mencintai sensasinya belaka? Entah.
Tapi kita coba rubah cara pandangnya. Cinta bukan lagi perasaan, melainkan keputusan yang mengandung tanggung jawab penuh dari orang yang memilihnya. Maka sekarang seharusnya tidak ada orang yang bisa bermain-main seenaknya lagi dengan cinta. Karena cinta versi ini tidak akan peduli dengan seberapa lihai anda bermain dengan kata-kata gombal, janji manis, dan seberapa intim kalian ketika bermesraan. Cinta versi ini tidak meminta omong kosong, ia menuntut anda untuk mempertahankan satu janji hingga mati. Dan sekali anda berani bermain dan meremehkan cinta ini, maka anda bisa saya sebut sebagai bajingan.
Jika kita akan kembali ke pacaran dan mempertanyakan definisi cinta yang terkandung di dalamnya, maka definisi pertama lebih cocok kepadanya (cinta adalah perasaan). Kita bisa melihat buktinya dimana pacaran lebih mirip sebagai sarana konsumsi daripada kontribusi. Ia cepat habis ketika sensasi boom boom kachoo itu sudah hilang dan membutuhkan sosok pengganti untuk mengulang sensasi tersebut dari awal.
Pada akhirnya, saya akan tetap duduk di sini dengan segala angan dan kesepian konyol saya. Setidaknya saya tidak ingin rasa kesepian saya memakan korban. Setidaknya saya tidak ingin menghabiskan waktu, uang dan emosi orang lain hanya untuk memuaskan validasi sementara. Kalian boleh temani saya duduk, saya senang jika diajak berdialog bersama.

Leave a Reply